RSS

Monthly Archives: January 2015

A Sharp Knife of A Short Life

Tadi di loker, seorang teman bilang, “Naya jadi trending topic.” Naya itu gadis awal duapuluhan, sekelas sama gue di body pump, posisinya sering berdekatan cuma komunikasi kita sebatas saling memandang dengan wajah lelah dan peluh bercucuran. “Kenapa Naya?” kepo gue, “dia meninggal!” Gue langsung lemes. Jadi, kemarin lusa adalah kali terakhir gue ketemu dia, dan kemarin banget dia wafat. Namanya umur memang ga bisa ditebak.

Beberapa teman gue juga ada yang sudah mendahului untuk menghadap Sang Pencipta. Tahun kemarin gue kehilangan seorang teman dekat, karena sakit. Tiga tahun lalu, gue kehilangan teman sebangku saat SMA karena kecelakaan, seminggu kemudian bekas rekan kerja di bandara juga meninggal akibat sakit. Umur mereka masih awal tigapuluhan, masih muda, kan?

Sebagai seorang Gleek, gue juga syok saat Cory Monteith dinyatakan meninggal. Cara meninggalnya sungguh sangat disesalkan dan gue ga bersimpati kalo meninggalnya karena overdosis obat terlarang. Episode The Quarterback dalam rangka mengenang Finn Hudson sangatlah dramatis, Gleek yang nonton pada nangis. Scene favorit gue adalah saat Santana Lopez (Naya Rivera) nyanyi If I Die Young.

 

Gue yakin sebagian besar pembaca blog ini masih muda mudi, sebisa mungkin jalani gaya hidup sehat, ya. Olah raga teratur, makan sesuai kebutuhan, istirahat cukup, agar terhindar dari penyakit berat.

Orang-orang yang mati muda, ada dua pendapat mengenai hal ini. Pertama, sayang sekali mereka masih muda sudah meninggal dunia, masih belum merasakan hal-hal yang seharusnya bisa dinikmati di dunia. Kedua, mereka sangat beruntung, karena hidup ini sangatlah melelahkan. Kalau kamu pendapatnya gimana? 🙂

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on 01/28/2015 in Uncategorized

 

Dua Tombol Kebahagiaan

Sebuah pepatah Jepang mengatakan, setiap manusia memiliki dua tombol untuk bisa merasakan kebahagiaan. Tombol pertama adalah tombol kebahagiaan yang diciptakan oleh diri sendiri. Misalnya, mengerjakan hobi, makan makanan favorit, mendengarkan musik yang disuka, dan lain-lain.

Tombol kedua, kebahagiaan saat diakui dan dipuji orang lain, kita tak akan merasa bahagia tanpa adanya sanjungan dan pengakuan dari mereka. Tombol kedua ini bukan ditekan oleh kita sendiri, melainkan orang lain yang harus menekannya.

Tombol pertama berasal dari hal-hal yang sederhana, namun sangat menyenangkan bagi kita secara pribadi.
Sementara pengaruh tombol kedua sangatlah kuat, begitu kuatnya hingga tak bisa dikendalikan lagi. Dorongan dari orang lain sebagai pemicu kebahagiaan memiliki sifat adiktif, saat dorongan itu lenyap, akan muncul kegelisahan, ketidak puasan, sampai rasa percaya diri yang menghilang. Kita akan rela melakukan apa saja supaya orang lain mau menekan tombol kedua.

Pepatah ini relevan dengan yang terjadi sekarang ini di dunia media sosial yang kian beragam. Kita akan merasa bahagia saat foto instagram kita banyak yang memberi ❤, banyak yang me-retweet tweet kita, banyak yang ‘like’ postingan kita di facebook. Iya, kebahagiaan yang berasal dari orang lain memang menyenangkan. Untuk sesaat kita merasa superior, populer, dan rasa-rasa yang bikin false pride kita meningkat.
Gue, sebagai makhluk medsos yang tak sempurna dan penuh dosa, juga seneeeng banget kalo foto instagram gue banyak yang like atau twit gue banyak yang RT atau hasil kreasi gue di-repath temen atau postingan facebook gue banyak yang like atau banyak yang visit blog gue. Rasa diakui dan disetujui dan dikagumi sungguhlah menyenangkan! Siapakah yang paling diuntungkan atas penekanan tombol kedua? Tak lain tak bukan adalah ego kita.

Ada kisah lain dari tanah Amerika, yang merupakan legenda turun temurun dari suku Indian Cherokee. Kisah ini mungkin sudah sering dibaca, gapapa, sebagai pengingat saja.

One evening an old Cherokee told his grandson about a battle that goes on inside people.
He said, “My son, the battle is between two wolves inside us all.
“One is Evil – It is anger, envy, jealousy, sorrow, regret, greed, arrogance, self-pity, guilt, resentment, inferiority, lies, false pride, superiority, and ego.
“The other is Good – It is joy, peace, love, hope, serenity, humility, kindness, benevolence, empathy, generosity, truth, compassion and faith.”
The grandson thought about it for a minute and then asked his grandfather: “Which wolf wins?”
The old Cherokee simply replied, “The one you feed.”

Jadi teman, bijaksanalah dalam memberi makan jiwa kita, ya. 🙂

Postingan ini terinspirasi dari sebuah cerita di Q.E.D vol 46

 
Leave a comment

Posted by on 01/15/2015 in Uncategorized

 

Betapa Nyaman di Zona Nyaman

Tulisan ini akan tampak sangat shallow bagi sebagian orang. Well, ambil hikmahnya aja, ya.

Seorang teman yang selama ini dikenal punya pasangan yang mukanya biasa-biasa aja cenderung lumayan (yah, skornya 55-75, ga sebanding sama dia yang skornya 89 dalam skala 1-100) mendadak punya pasangan yang kece banget! (skor A+). Gue kepo, dong, tumben-tumbenan dia punya pasangan kece. Mengingat kami sudah dekat dan kalau ngomong bisa asal jeplak, gue terlibat percakapan dengan dia tentang pasangan barunya.

Gue: Pacar lo sekarang kok “mendingan”?
Dia: Maksudnya?
Gue: Yaaa, biasanya kan mukanya pas-pasan gitu.
Dia: Ahahaha. You know me so well. Ya gitu, deh.
Gue: Kok bisa berubah gitu?
Dia: Gini, Bro. Selama ini kenapa gue selalu dapat yang pas-pasan buat cari aman. Dan gue sadar, itulah zona nyaman gue.
Gue: Lah, emang pacaran buat cari rasa nyaman, kan?
Dia: Gue bilang ‘zona nyaman’, bukan ‘rasa nyaman’.
Gue: Bedanya adalah…
Dia: People said, comfort zone has no good, comfort zone makes you can’t improve yourself. Kalau pasangan gue biasa-biasa aja terus, kapan gue bisa ‘meningkat’?
Gue: Ya tapi you’re so superficial! Ngeliat orang dari fisik doang! Tidak fair!
Dia: Yang ngejalanin hubungan itu siapa, sih? Gue, kan? Bukan lo.
Gue: Oke-oke. Gue pikir zona nyaman cuma ada di dunia kerja doang, di dunia percintaan pun ada ternyata.
Dia: Yep, someone said life begins when you leave your comfort zone.
Gue: Tapi kan orang cakep biasanya brengsek!
Dia: Tapi kan ada juga orang cakep yang baik hati, setia, dan tidak brengsek. Lagian, ya, kalau lo mau tau, setiap orang itu ada sisi brengseknya. Mantan-mantan gue yang kata lo mukanya pas-pasan semua itu, ada juga kok yang brengsek. Masih mending di-brengsek-in sama orang cakep, kan, daripada sama orang jelek. Ga rugi-rugi amat lah!
Gue: Hahahaha. You make me pondering.
Dia: Selama ini kenapa pacar gue biasa-biasa aja, karena gue pikir orang yang biasa-biasa aja itu ga bakal bandel. But adaaaaa aja yang bandel, ga semuanya lho, ya. Itulah comfort zone hati gue, padahal gue tinggal ambil resiko sedikit patah hati, gue bisa juga dapet apa yang gue pengen.

Iyalah gue jadi kepikiran. Kalau kita meninggalkan ‘zona nyaman’, siapa tau kita bisa dapatkan apa yang selama ini diidam-idamkan. 😀

 
5 Comments

Posted by on 01/12/2015 in Uncategorized

 

Butiran Styrofoam

See this video first

Jimmy Fallon itu dulu sempet hampir nge-date sama Nicole Kidman! Damn! A comedian (memang good looking, sih) hampir jalan bareng sama seorang aktris papan atas Hollywood! Yang lebih mengejutkan lagi, Nicole-nya sebenernya mau sama Jimmy!!

Tapiiiii, kelakuan Jimmy bikin ilfil Nicole, abisan Jimmy-nya diem aja, culun, dan cuek. Padahal Jimmy kayak gitu karena grogi ketemu Nicole. Yaiyalah, Nicole itu perfect banget, tinggi, cantik, pinter, tajir, terkenal, I mean (in my shallow opinion) manusiawi lah kalo cewek-cewek mau kayak dia, dan cowok-cowok mau sama dia. Gimana gak nervous coba ketemu sama seorang Nicole Kidman. Gue aja bakal pingsan karena adrenaline rush kali yah. :p

Jadi ingat dulu pernah kejadian sama gue, ketemu sama orang yang puwerrrfect di mata gue, dan gue memang terobsesi ngefans sama dia. Ketemu dia, grogi abis, ga tau mau ngapain, hasilnya sok cool, jaim, dan pendiem, I can’t be myself because I am very nervous. Pokoknya gue ngerasa waktu itu gue hanyalah butiran styrofoam dibandingkan dengan dia yang hebat dalam segala aspek (di mata gue saat itu), gue minder berat.

Singkat cerita, bertahun kemudian kami menjadi teman dekat dan cerita-cerita waktu pertama kali ketemu dulu. Dia bilang, sebenarnya dia tuh pengen jadi pacar lebih dari sekadar teman sama gue, cuma ngeliat gue yang kelakuannya kayak ogah-ogahan ketemu sama dia, dia jadi menganggap gue ga tertarik sama dia. Padahal mah ya, natap matanya aja ga berani karena saking sukanya (halah).

Kaget dong gue dengar confession-nya dia. Gue bilang apa yang gue rasakan soal campur aduk rasanya pas ketemu dia. Kita ketawa, kayak Jimmy dan Nicole di video tadi (minus penonton dan diupload di youtube).

Akhirnya gue sadar, kalau kontrol diri itu perlu banget saat menghadapi orang yang disuka. Tetap menjadi diri sendiri, karena gak ada yang lebih baik dibandingkan menjadi diri sendiri. Biarkan dia suka kita apa adanya, gak cuma suka secara fisik, tapi juga suka dengan kepribadian kita. Kalo dia memang ditakdirkan buat kita, semua akan dilancarkan, kok. Kalo dia gak jadi sama kita, yah, berarti Tuhan telah melindungi kita dari sesuatu yang akan menyakiti lebih dalam lagi. Klise, sih, tapi bener, kan?

 
1 Comment

Posted by on 01/11/2015 in Uncategorized

 

Gosong Sebelum Dimasak

Suatu hari, seorang teman yang kelamaan jomblo tiba-tiba nanya,

“eh, enaknya temen lo itu gue deketin ga, yah?”
“daripada lo penasaran, deketin aja.”
“takut, ah. nanti gue patah hati.”
“ya lo jangan baper dulu, lah.”
“baper apaan?”
“bawa perasaan!”
“lha kan gue ada rasa suka ama dia?”
“yaa diteken dulu, kenalin dia lebih dulu, temenan aja dulu.”
“huh, males, ah!”
“yaelahbrooo… lo udah kayak nasi yang gosong duluan sebelum dimasak!”

Namanya orang, ya, kalo mau sesuatu harus usaha. Belum perang udah kalah duluan. Iya, sih, alasannya dia memproteksi hati. Tapi kalo kata Bette Midler di lagu The Rose,

It’s the heart afraid of breaking
That never learns to dance.
It’s the dream afraid of waking
That never takes the chance.
It’s the one who won’t be taken,
Who cannot seem to give,
And the soul afraid of dyin’
That never learns to live…

Semua itu pilihan. Ada teman yang karena sudah lelah (dan faktor umur juga) bilang “ya udah lah, yaa. Kalo jodoh ga bakal ke mana,” boleh-boleh aja. Atau ada seorang teman yang berprinsip, “kalo suka, perjuangkan! biar dia tau!” iya, sah-sah aja. Kembali ke masing-masing hatinya, udah yakin cukup kuat?

Ini ada dua tweet sekadar tips biar hati ga merana banget,

Bonus video buat meningkatkan semangat hidup, The Rose yang dibawakan oleh Westlife!

Btw tulisan ini kok gak jelas gini, semacam curhatan tengah malam… :p

 
3 Comments

Posted by on 01/07/2015 in Uncategorized