RSS

Monthly Archives: February 2015

Makhluk Penghuni Gym

Jadi di gym itu ada beberapa jenis makhluk:

1. Douchebag
Isinya cowok2 yang udah berotot tapi tetep weh rajin. Ngegerombol di satu alat buat giliran make sambil saling bantu. Biang ribut dan obrolannya seputar nyari tante-tante dan cabe-cabean.

2. Ciwiciwi ganjen
Ke gym pake celana gemez yang pas selangkangan, pake tanktop, dan baunya harum sepanjang waktu mereka berada di ruangan. Suka ikut kelas-kelas cardio dan apapun yang bisa mempertahankan bentuk tubuh. Beberapa dari mereka pake hijab kalo lagi ga ngegym.

3. Nerdy
Agak serius ngegym, ciri khas mereka itu pake kacamata kalo exercise. Biar jelas kalo ngaca sambil ngangkat beban berat. Konon kalo kacamatanya dilepas jadi ga seimbang badannya, juga ga bisa ngeceng member2 kece.

4. Lonely loner
They come to exercise, not to make friends. Ada atau tidak keberadaannya di gym ga begitu berpengaruh, biasanya muncul di hari-hari sepi seperti Sabtu dan Minggu.

5. Newbie
Kalo ga ceking banget ya subur makmur berdasarkan Pancasila dan UUD ’45. Jarang banget ada newbie sendirian, mereka minimal berdua. Kebanyakan nanya ini itu (namanya juga anak baru) ke Instruktur yang dengan senang hati memberikan pengarahan dengan beban-beban sangat ringan.

6. Casual member
Udah jadi member hampir setahun tapi badannya segitu-gitu aja. Tipe2 gini nih yang biasanya dilecehkan temen2 kantornya “ngegym rajin kok badannya ga berubah?” Mungkin tujuan mereka datang adalah menjaga kebugaran (seperti tujuan awal didirikannya Pusat Kebugaran), bukan supaya looks god when being naked.

7. Anak PT
PT stands for Personal Trainer. Datang ke gym, langsung ditangani PT, kelar PT ya langsung mandi terus pulang. Ngobrol-ngobrol sesama pengunjung gym ya seperlunya aja. Ga ada yang ngajakin ngobrol juga ga masalah, karena mereka ini serius pengen mengubah bentuk tubuhnya.

8. Pembeli tiket
Kan di gym tuh ada membership yang sebulan bisa sampe 31x dateng trus ngendon di situ dari tutup sampe buka. Nah, golongan ini coba-coba aja dulu sekali dua kali tiga kali dalam sebulan datangnya. Ga serius exercise (namanya juga coba-coba)

9. Pejabat teras
Diisi oleh bapak-bapak dan om-om yang membershipnya diberikan secara cuma-cuma oleh gym sebagai bentuk penghargaan dengan harapan membuat segala urusan birokrasi lancar.

10. Senamania
Ada tiga kelas dalam semalam? Mereka ikutin semuanya! CX work? Hajar! Zumba? Ayok! Spinning? Gowes! Yoga? Namaste! Body pump? Oke! Belly dance? Capcus ciyn! Isinya kebanyakan ibu-ibu dan mbak-mbak kantoran yang nyari keringat di ruang ber-ac.

Ada yang mau menambahkan? 😀

View on Path

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 02/23/2015 in Uncategorized

 

Lily Potter and The Friendzoned Prince

Postingan ini membahas tentang dua hal yang udah keseringan dibahas, friendzone dan Harry Potter.

Jadi, tadi sore gue buka video youtube yang mendadak viral padahal diunggahnya lebih dari setahun yang lalu, judulnya “Severus Snape | Important Scenes in Chronological Order”. Habis nonton itu, jadi pengen puk puk Alan Rickman (pemeran Severus Snape). Yang ga tau Severus Snape itu siapa, errrrrrrrr, baca aja deh ketujuh jilid Harry Potter. 😐

Oh iya, ini videonya.

Yang menarik adalah komentar dari si pembuat video, dia bilang gini,

Regardless of where you stand on Snape or Lily’s characters/choices, or their relationship, Lily didn’t friendzone Snape. He never told her how he felt, so technically she couldn’t reject his feelings. It’s debatable what would’ve happened if he had, but here’s a quote from an interview in 2007 w/ J.K. Rowling:
Interviewer: Did Lily ever have feelings back for Snape?
JKR: Yes. She might even have grown to love him romantically (she certainly loved him as a friend) if he had not loved Dark Magic so much, and been drawn to such loathsome people and acts.

poinnya adalah “He never told her how he felt, so technically she couldn’t reject his feelings.”
Sooooooooooo, kalo lo, lo, dan lo *tunjuk satu persatu* ga pernah nyatain cinta ke ybs, jangan ngaku jadi korban PHP, jangan ngaku kena friendzone! :))

Di sisi lain, menurut teori komunikasi klasik, komunikasi verbal itu hanya 20%, sisanya komunikasi non-verbal yang bisa ditunjukkan dari bahasa tubuh, gesture, dan belasan jenis lainnya. Jadi ga perlu diomongin, kan udah ngerti sendiri (kalo dianya ngerti dan peka). Ya ya ya, tapi para penjaga fans bisa berkelit dengan alasan “dianya ga pernah ngomong ke gue, kalo dia suka sama gue.” Nah, baca lagi poin di atas.

Buat menghibur klean klean yang (katanya) jadi korban friendzone, ini ada lagu dari 98 Degrees yang patut jadi anthem buat para korban kekejian lembah friendzone, [skip aja langsung ke 1:22]

Btw ada, lho, yang punya pengalaman tiga kali nembak ga dijawab-jawab sampe dia capek sendiri terus ninggalin. Eh, yang ditinggalin (yang gak jawab-jawab) malah merasa dicampakkan. :))

 
2 Comments

Posted by on 02/12/2015 in Uncategorized